Menjiwai Sumpah Pemuda Dengan Saling Mencintai Antar Umat Beragama


Menjiwai Sumpah Pemuda
Dengan Saling Mencintai Antar Umat Beragama

Bulan oktober memiliki aspek historis perjuangan yang mengagumkan dengan ditandai terukirnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi awal kelahiran Bangsa Indonesia. Begitu luar biasa semangat para generasi muda saat itu untuk bersatu, bersama-sama saling merangkul mengangkat martabat Bangsa Indonesia setelah sekian lama terjajah oleh bangsa lain. Sebuah semangat kekeluargaan luar biasa yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia meskipun memiliki berbagai macam perbedaan namun tidak menghalangi rasa persaudaraan mereka.
Seiring dengan perkembangan zaman pasca kemerdekaan Indonesia, ternyata semangat kekeluargaan tersebut mulai luntur, seolah-olah pernyataan dalam Sumpah Pemuda tersebut hanya menjadi sebuah fomalitas upacara yang sangat minim dalam implementasinya. Indonesia mulai terkotak-kotak dalam struktur sosial dalam masyarakat yang dibedakan atas kepercayaan agamanya. Exclusive agama secara jelas terjadi dengan memandang rendah terhadap agama lain atau menganggap perbedaan pada agama lain menjadi sebuah keanehan. Bahkan tidak jarang kekerasan fisik, penghinaan, pembakaran , penghancuran hingga pembunuhan terjadi dengan mengatasnamakan agama. Padahal secara jelas telah termuat dalam sila pertama Pancasila yaitu “Ketuhaan Yang Maha Esa” bahwa apapun kepercayaan agama kita meskipun nama dan cara yang berbeda tapi sesungguhnya tetap menyembah Tuhan yang sama.
Konsep persaudaraan dan persatuan dengan persamaan derajat sesungguhnya telah dijelaskan dalam Veda salah satunya yaitu ”Ajyesthaaso Akanisthaasa Yete,Sam Bhraataro Vaavrudhuh Soubhagaya (RigVeda V.60.5)” yang berarti tidak ada yang superior maupun inferior bagi seluruh umat manusia, kita semua bersaudara, semua harus berjuang untuk kepentingan dan kemajuan bersama. Dalam konsep hindu juga diajarkan bagaimana agar kita tidak terpancing untuk menjelekan kepercayaan lain kalaupun ada yg menghujat jelaskan dengan halus dan sabar penuh pengertian anggap mereka saudara kita yg salah persepsi terhadap Agama Hindu karena kebetulan dilahirkan dalam lingkungan sosial yang sempit. Pada dasarnya semua manusia bersaudara apapun perbedaannya, cinta kasih tetap yang utama begitu juga dengan Agama lain.
Dalam memperingati sumpah pemuda, para generasi muda sebagai masa depan bangsa hendaknya secara bersungguh-sungguh menjiwai nilai-nilai persaudaraan dan persatuan yang terkandung didalamnya. Bersatu sebagai Bangsa Indonesia,Tanah Air Indonesia dalam menghadapi berbagai macam permasalahan serta persaingan global. Pemerintah juga seharusnya mampu berperan aktif mengkonstruksikan Hari Sumpah Pemuda menjadi hari yang tidak sekedar menjadi upacara formalitas rutin misalnya dengan memfasilitasi pertemuan diskusi besar, camping Bhinneka Tunggal Ika yang dibarengi dengan lomba, Ikrar Sumpah Pemuda dan masih banyak kegiatan lain yang bisa memperkuat persaudaraan. Paling tidak kita harus mampu menciptakan hubungan yang harmonis sesama manusia sebagaimana konsep “Pawongan” dalam Tri Hita Karana”, setelah “Palemahan” kita semakin rusak akibat pembabatan hutan bakau di Bali yang dilakukan oleh pemerintahnya sendiri atas nama kebutuhan bersama. Kita harus berjuang dalam memperbaiki dan mengatasi segala macam tantangan yang semakin kompleks di masa mendatang. Jangan sampai sebuah perbedaan kecil mampu merusak persaudaraan kita. Segala tantangan yang sulit tentu akan menjadi mudah apabila berjuang bersama-sama dengan prinsip “ Unity in Diversity”, satu keluarga dibawah satu Tuhan.



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama