Fasilitasi Masyarakat Miskin Untuk Mengembangkan Kreatifitas dalam Menghadapi Persaingan

Seperti kata pepatah “ada gula ada semut”, Bali bagaikan sebuah permata yang diincar oleh banyak pihak. Dengan banyaknya wisatawan lokal maupun mancanegara membuat orang berlomba-lomba meraup keuntungan sebanyak-banyaknya mulai dari pedagang sampai investor, dari Orang lokal sampai pendatang.  Masyarakat Bali memang dikenal ramah terhadap pendatang. Setelah 2 bom yang menjadi sorotan dunia, Masyarakat Bali semakin sadar bahwa tidak semua orang ke Bali berniat baik seperti yang sebelumnya mereka pikirkan. 
Banyaknya penduduk pendatang yang mengadu nasib ke Bali dengan modal seadanya kemudian tinggal menetap di Bali ,menyebabkan angka kemiskinan Bali meningkat. Mereka banyak tinggal di rumah kardus, lingkungan kumuh bahkan banyak yang menjadi gelandangan.  Namun, tidak sedikit dari penduduk pendatang dengan keuletannya yang kemudian berkembang sehingga mampu mendirikan usaha kecil menyaingi usaha lokal masyarakat Bali. Bahkan usaha kecil tersebut lama-kelamaan berkembang menjadi usaha besar sehingga mematikan usaha-usaha lokal masyarakat Bali.  Jika masyarakat Bali tidak segera tanggap terhadap hal tersebut maka perekonomian di Bali akan dikuasai oleh penduduk pendatang. Sementara itu masyarakat Bali sibuk dalam melestarikan budayanya namun hasil dari budaya Bali akan dinikmati oleh orang lain.
Oleh karena itulah, masyarakat Bali harus lebih kreatif dalam menghadapi persaingan dari pendatang domestik maupun investor asing. Jika masyarakat Bali tidak kreatif, tidak mau bekerja keras, dengan sendirinya akan tersisih, sehingga sulit bersaing dengan pendatang yang betul-betul sudah menyiapkan diri dengan baik. Seperti contohnya pekerja lokal hanya sebagai penonton tidak menikmati apa-apa dalam kegiatan mengakhiri tahun 2011 dan menyambut tahun baru 2012. Terompet, petasan dan kembang api yang menyemarakkan Bali pada akhir tahun itu merupakan hasil kreativitas penduduk pendatang. Bisa dibayangkan berapa trilyun uang masyarakat Bali yang seharusnya dapat lebih bermanfaatkan jika diperuntukkan untuk membangun Bali.
Orang luar tidaklah mutlak menjadi sumber masalah di Bali.Ini juga akibat dari Orang lokal yang tidak bisa menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Bisa dilihat bahwa hampir 90% pedagang di Bali didominasi justru oleh orang Non-Bali sementara orang lokal kurang bisa memaksimalkan perannya.
Masyarakat miskin di Bali justru banyak yang masih menggantungkan harapannya pada judi sabung ayam, nomer togel dan judi-judi lain yang seharusnya sudah dilarang. Ironisnya lagi hal tersebut bukannya dicegah justru banyak dimanfaatkan oleh para “polisi nakal“ untuk semakin memiskinkan masyarakat Bali. Masyarakat miskin banyak yang hingga menelantarkan keluarga, menjual tanah warisan dan hanya berprofesi sebagai penjudi atau pemabuk.
Pemerintah daerah harus semakin memperhatikan hal tersebut , terutama dengan memfasilitasi masyarakat Bali untuk mengembangkan diri. Terutama dalam hal permodalan dan pengawasan terhadap modal tersebut, pembinaan, sosialisasi , mengembangkan sumber daya manusia dengan memberikan diklat yang tidak hanya berangkat dari pendidikan formal dan juga memikirkan  cara-cara jitu lainnya. Agar tidak hanya sekedar menggencarkan pembangunan di Bali tapi juga memperhatikan masyarakat Bali itu sendiri.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama