Sinetron
religi berjudul “Sembilan Wali” yang telah tayang di Indosiar bukannya berisi
sajian sejarah abad 14 dan 15 di Nusantara yang dapat dipetik hikmahnya, namun
yang tersaji adalah sinetron dengan kualitas tidak jelas dan kebohongan kisah
sejarah. Rumah produksi sinetron ini adalah produsen yang sama dari Sinetron
Tutur Tinular Versi 2011 yang telah sukses mengacak-acak kisah asli Tutur
Tinular berikut juga timeline sejarah yang melatar belakanginya. Tidak cukup
mencederai umat hindu dengan manipulasi kisah “Angling Dharma” yang dulu pernah
ditayangkan, kini sinetron “Sembilan Wali” kembali secara jelas telah
menceritakan kebohongan yang bersifat SARA.
Dalam
sinetron tersebut dikisahkan tokoh Sunan Kalijaga sebagai sosok yang sempurna,
tampan, berbudi luhur, sakti, dan steril dari intrik politik. Demikian pula
sosok Raden Patah dan para wali yang lainnya yang digambarkan sebagai sosok
super suci dan steril dari intrik politik. Kesultanan Demak Bintoro digambarkan
sebagai kesultanan yang bersih dan cinta damai. Berbeda dengan Kerajaan Majapahit
yang digambarkan sedemikian bobroknya, berisi orang-orang yang suka berperang,
kejam, penuh intrik politik dan memusuhi agama Islam serta memerangi para wali. Dalam sebuah script adegan bahkan
dengan nyata-nyata seorang perwira Majapahit yang berwajah beringas mengatakan
bahwa mereka harus memusnahkan wali karena mau mengganti kepercayaan hindu
dengan agama Islam.
Fakta
sejarah seperti yang ada dalam Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Kitab
Darmogandhul, Kronik China Sam Po Kong jelas menunjukkan adanya kudeta Demak
atas Majapahit yang didukung oleh para Wali. Termasuk konflik berdarah Syeh
Siti Jenar, konflik Trah Demak dengan Trah Pengging, dan perang Kesultanan Giri
Kedaton versus Kesultanan Pajang, yang terasa sampai sekarang dengan
simbolisasi kaum Putihan dan Abangan. Tidak ada bukti yang mengatakan bahwa
para Wali diburu dan dibunuh pada zaman Majapahit. Kerajaan Majapahit adalah
kerajaan yang sangat toleran pada keberagaman sesuai dengan slogan Bhineka
Tunggal Ika. Hal ini terbukti dari eksistensi Kesultanan Malaka dan Pasai yang
dibiarkan hidup berkembang dengan kultur agama Islam di bawah naungan payung
Majapahit.
Fakta
sejarah justru bertolak belakang dengan sinetron “Sembilan Wali” dan telah
dapat dibuktikan bahwa kesultanan Demak, di bawah pimpinan Raden Patah atas
rekomendasi walisongo telah melakukan kudeta terhadap Majapahit. Raden Patah
dan para wali selain sebagai penyebar agama Islam, namun juga memiliki manuver
politik untuk membawa Demak menjadi penguasa Nusantara, khususnya Jawa. Hal ini
terbukti dari pertikaian para wali dengan Syeh Siti Jenar beserta muridnya Kebo
Kenongo yang berakhir dengan hukuman mati. Kisah ini tercatat dalam Serat
Centhini dan Serat Cabolek. Sebagaimana perihal senada juga diungkapkan oleh
Lintan Wetan seorang pemikir ahli sejarah yang kritis dalam kompasiana.
Apabila
kebohongan-kebohongan sinetron SARA ini dibiarkan tayang tentu sama saja dengan
memanipulasi sejarah dalam masyarakat. Mampu mencederai hubungan harmonis umat
beragama karena tidak semua masyarakat paham akan sejarah. Banyak masyarakat
akan merasa bahwa dalam sejarah, leluhur mereka yang bersih tanpa intrik
politik tapi diperangi dan dibunuh. Hal tersebut akan mengakibatkan
meningkatnya fanatisme agama yang berujung pada sentimen agama. Apalagi bagi umat
hindu pedesaan yang masih awam tentu akan dapat terpengaruh bahkan apabila
tidak terpengaruhpun ini sangat melukai umat hindu di seluruh Indonesia.
Untuk
itu diharapkan bagi para wakil rakyat harus segera tanggap terkait persoalan
ini dengan bersama-sama mendesak Komisi Penyiaran Indonesia untuk melarang
sinetron ini untuk ditayangkan serta menghimbau masyarakat dengan sosialisasi
untuk tidak mudah terpengaruh dengan kebohongan sejarah. Pemerintah dan Media
sebaiknya segera kembali bekerjasama dalam melindungi masyarakat.
Tags:
Karya Perubahan