Jumat, 28 Februari 2014

Hasil Survey Pemilu Legislatif 9 April 2014

Hasil Survey Lembaga Survey Dharma Bali 1 Maret 2014
18 Calon yang memiliki peluang besar untuk lolos sebagai DPR RI dalam Pemilu
 

1.       Dr. Ir. I Wayan Koster  M.M                                            
2.       I Gede Sumarjaya Linggih S.E                                   
3.       Drs. I Made Urip Msi.                                                   
4.       Ir. Jero Wacik S.E                                                         
5.       I Nyoman Dhamantra                                                    
6.       Drs. I Wayan Chandra , SH. MH                                 
7.       I Gusti Agung Rai Wiryajaya                                     
8.       A.A Bagus Adhi Mahendra Putra                              
9.       I Gede Krisna Putra                                                    
10.   Putu Sugiartana                                                   
11.   Ida Bagus Putu Sukarta, S.E, Msi                               
12.   I Wayan Bagiartha, S.H. M.H                                     
13.   Gede Ngurah Wididana                                                
14.   Tutik Kusuma Wardhani S.E, MM, Mkes                    
15.   A.A Bagus Jelantik Sanjaya, MBA                              
16.   Dra.  I G Agung Putri Astrid                                         
 Ir. I Nyoman Ray Yusha, MM.                                       
18.  Oktan Hidayat                                                               
Suara Partai
PDIP          : 44 %   (4 kursi)
Golkar       : 19%    (2 kursi)
Demokrat:  13%   (1 kursi)
Gerindra :    9%    (1 kursi)
Hanura   :    3%   (0-1 kursi)
PKS         :     3%   (0-1 kursi)
PKB       :   2%
Nasdem:     2%
PKP        :    2%
PBB        :    1%
PAN      :   1%
PPP        :   1%


             

Kamis, 27 Februari 2014

Pemerintah Belum Serius Melaksanakan Perda RTRWP


Pemerintah Belum Serius Melaksanakan Perda RTRWP


            Peraturan daerah Provinsi Bali nomor 12 tahun 2009 tentang rencana tata ruang wilayah provinsi Bali sesungguhnya merupakan salah satu pedoman dasar dalam merumuskan grand design pembangunan Bali masa mendatang. Perda ini mengatur arahan zonasi kawasan perkotaan, pedesaan, transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air, lingkungan serta kawasan lindung dan budidaya. Adapun yang diatur khusus dalam kawasan perlindungan mencakup kawasan suci hutan lindung, gunung, sepadan pantai, danau, jurang dan pulau-pulau kecil. Arahan zonasi ini diharapkan menjadi pelindung Bali untuk tetap dapat meningkatkan kompetensi global dengan peningkatan sumber daya disamping juga wajib mempertahankan keindahan budaya dan alam di Bali.     
            Setelah 5 tahun usia Perda RTRWP Bali ternyata belum banyak berperan maksimal dalam menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih banyaknya bangunan akomodasi wisata seperti hotel dan villa secara terang-terangan melanggar sepadan pantai. Pelanggaran terbanyak berada di kawasan Badung Selatan seperti Kuta, Jimbaran, Nusa Dua dan Pecatu selain itu banyak pula pelanggaran yang ada di sepanjang pesisir Tibubeneng dan Canggu. Pelanggaran ini terus terjadi disebabkan kurang tegasnya penertiban yang dilakukan oleh pemerintah meskipun sudah jelas dilarang dalam pasal 50 ayat 4 terkait pengaturan sepadan pantai dengan jarak 100 meter dari titik pasang air laut.
            Sepadan pantai seharusnya dibuka sepenuhnya menjadi ruang public sehingga tidak dikuasai oleh pihak swasta sebagaimana juga diatur dalam dalam pasal 108 ayat 3 huruf f. Sekalipun menjadi milik swasta selayaknya tidak dikuasai namun digunakan untuk menunjang fasilitas rekreasi yang bisa digunakan juga oleh wisatawan dan masyarakat sekitar. Namun seringkali masyarakat dilarang untuk menikmati indahnya pantai oleh  satpam-satpam hotel dengan alasan pantai dan laut hanya boleh digunakan oleh tamu hotel saja. Kondisi ini menyebabkan semakin terpinggirnya masyarakat sehingga lambat laun pantai dan laut hanya akan dinikmati oleh orang kaya sementara masyarakat lokal hanya akan menikmati limbah-limbah dari hotel saja. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian pemerintah agar masyarakat lokal yang melaksanakan melasti juga tidak merasa seperti meminjam tempat ketika melaksanakan ritual suci di sepadan pantai.
            Selain terkait sepadan pantai pemerintah juga harus lebih serius dalam melaksanakan zonasi-zonasi yang lain. Seperti misalnya menertibkan villa-villa yang melanggar sepandan jurang di Bali yang juga terus bertambah sehingga sangat mengganggu pemandangan umum bagi masyarakat ataupun wisatawan lain.
Bali tidak bisa menolak pembangunan di tengah tingginya persaingan global namun selayaknya pembangunan yang ada adalah pembangunan yang memang membangun masyarakat bukan pembangunan yang meminggirkan masyarakat, merusak keindahan dan menciptakan degradasi budaya dan spiritual yang menjadi kebanggaan Bali. Peran serta masyarakat khususnya Desa Pakraman juga sangat dibutuhkan agar secara aktif bekerjasama dengan pemerintah dalam melakukan pengawasan-pengawasan pembangunan. Sehingga Bali masa mendatang bukan menjadi milik investor tapi menjadi milik setiap masyarakat yang menjaga dan melestarikan budaya Bali.
           
           

Selasa, 25 Februari 2014

Eksploitasi Galian Pasir Karangasem Membutuhkan Perbaikan Penataan Pemerintah

Eksploitasi Galian Pasir Karangasem
Membutuhkan Perbaikan Penataan Pemerintah

            Kegiatan penggalian pasir oleh perusahan besar di Karangasem telah bertahun-tahun dilakukan sebagian besar oleh pihak investor luar. Pihak penggali yang mendapatkan keuntungan, menginginkan eksploitasi terus dilakukan. Alasan investor penggali pasir, selain menguntungkan karena memberikan pendapatan asli daerah (PAD) dan lapangan pekerjaan bagi Kabupaten Karangasem.  Padahal, jika dilihat kontribusi galian tidak seberapa jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh investor dari nilai galian. Apalagi jika dihitung kerugiannya terhadap kerusakan jalan, kebisingan disekitar lokasi dan terganggunya tranportasi sepanjang jalan di Kabupaten Karangasem yang selalu dipenuhi Truk.
            Keuntungan yang sangat besar dari eksploitasi pasir ini ternyata hanya menguntungkan pihak tertentu saja dan belum menyentuh kesejahtraan setidaknya masyarakat sekitarnya. Adapun salah satunya dirasakan oleh masyarakat kurang mampu di Butus, Kecamatan Bebandem yang tinggal tepat disebelah pusat pengerukan galian. Masyarakat tidak mendapatkan kontribusi apapun selain kebisingan mesin setiap hari, transportasi yang terganggu dan anaknya yang dipekerjakan sebagai buruh disana. Meskipun banyak kerugiannya, bukan berarti kegiatan penggaliannya harus dihentikan hanya saja harus ditata dengan lebih baik lagi agar bisa bermanfaat khususnya bagi masyarakat sekitarnya.
            Berhentinya truk-truk disepanjang jalan untuk membayar setoran sangat menimbulkan terhambatnya transportasi karena terlalu banyak pos pemberhentian yang ada disetiap tikungan. Ini tentu saja selain merugikan masyarakat juga merugikan investor secara langsung. Maka dari itu perlu ditata oleh pemerintah daerah dengan menjadi satu-satunya pihak yang diperbolehkan menarik setoran. Jumlah setoran yang ditarik oleh pemerintah juga sebaiknya dinaikan berpuluhkali lipat dengan menyesuaikan jumlah Desa Pakraman yang dilewati oleh Truk-Truk pengangkut pasir. Setelah dipungut oleh Pemerintah baru kemudian diberikan kepada Desa Pakraman. Desa Pakraman yang memiliki wilayah penggalian selayaknya mendapatkan provorsi lebih banyak dibandingkan Desa Pakraman yang hanya dilewati oleh truk saja.
            Pengangkutan pasir yang dilakukan oleh kapal-kapal raksasa Tongkang juga perlu mendapatkan pengawasan dengan ketat. Karena berdasarkan laporan pekerja setempat seringkali kapal tongkang mengangkut pasir melebihi kapasitas yang dilaporkan. Diperkirakan per bulan pasir yang dikirim ke Newmont Sumbawa mencapai 45 ribu sampai 55 ribu ton. Belum lagi yang dikirim ke Surabaya. Kontribusi pengangkutan melewati laut ini  juga belum jelas kepada Desa Pakraman. Pengangkutan lewat laut selayaknya dikenakan pajak duakali lipat,  dibatasi bahkan sebaiknya dilarang karena sudah jelas bukan Krama yang akan menggunakan pasir Karangasem. Sangat miris jika pasir Karangasem 10 tahun lagi habis maka seluruh Bali akan membeli pasir dari luar tentu dengan harga yang sangat mahal. Padahal sekarang pasir Bali dikeruk habis-habisan beberapa diantaranya dimiliki investor asing.
            Ijin dari pengerukan juga harus diperjelas karena lebih dari 75 usaha galian C, hanya sembilan yang berizin. Hal yang paling memprihatinkan adalah Pura Pucaksari di Desa Butus Kecamatan Bebandem, pura ini hendak digusur untuk galian C. Saat ini, pura itu hampir longsor, karena di sekelilingnya sudah habis dikeruk sedalam sekitar 40 meter. Warga banyak yang resah namun, mereka tak berani protes terbuka, soalnya pemilik galian C adalah tokoh desa, tokoh banjar, pejabat, keluarga pejabat, oknum anggota dewan, serta pengusaha besar yang bisa memengaruhi arah kebijakan pejabat pemerintahan. Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang memiliki semangat untuk sejahtera bersama-sama masyarakat.

Pengusuran Patung Wisnu Murti, Penggusuran Bali di Bali



Pengusuran Patung Wisnu Murti,

Penggusuran Bali di Bali

            Penghancuran patung bernuansa Hindu seperti Krisna, Bima dan Wisnu sesungguhnya bukanlah sebuah berita baru. Begitu banyak tempat suci atau patung-patung yang dihancurkan sebagaimana yang terjadi di Purwakarta dan daerah-daerah yang lain di Indonesia. Penghancuran patung secara fisik, ekonomi maupun spiritual memang tidak berdampak banyak bagi umat Hindu. Namun, penghancuran ini menciptakan religious domination political power yang akan berdampak pada tekanan bagi umat Hindu bahkan lebih parah lagi muncul perasaan menerima atau mewajarkan sebagai masyarakat yang harus tunduk pada power tersebut. Sehingga sesungguhnya permasalahan bukan sesederhana penghancuran patung karena umat Hindu bukan paganism yang mendewakan benda mati tetapi lebih pada bagaimana mempertahankan identitas setiap butir nilai luhur Pancasila yang seharusnya menghargai dan memperindah setiap identitas bukan justru mencampakan perbedaan kebudayaan bangsa.
            Thomas Hobbes, John Locke dan J.J. Rousseau menjelaskan tentang bagaimana negara itu terbentuk dan bertahan karena adanya perjanjian (kontrak social) yang dibuat antara orang-orang yang tadinya hidup bebas merdeka. Perjanjian ini diadakan agar kepentingan bersama dapat terpelihara dan terjamin, supaya individu/kelompok tidak menjadi binatang buas bagi individu/kelompok lain (homo homini lupus). Apabila ada kelompok tertentu menjadi binatang buas yang senantiasa menghancurkan baik langsung atau tidak secara langsung menunjukan dominasi powernya terhadap kelompok lain dan terjadi secara sistematis meluas maka sesungguhnya bukanlah Negara yang terbentuk akan tetapi penjajahan secara halus. Melihat kondisi memprihatinkan ini maka karakter kebudayaanlah yang seharusnya menjadi prioritas utama Bangsa Indonesia karena dalam kebudayaan semuanya bebas nilai yang sama rata bagi setiap komponen masyarakat.
            Ketika kita melihat penghancuran patung Wisnu Murti di Tabanan maka yang sangat mengkhawatirkan sesungguhnya bukan saja dampak secara niskala. Tetapi adanya upaya penghancuran nilai kebudayaan, religious dan spirit masyarakat Bali, baik dilakukan secara sengaja dengan pengaruh dari luar atau terbentuk karena ditenggelamkan oleh pemahaman nasionalisme yang salah arah. Ketika kita berbicara nasionalisme sesungguhnya yang dikedepankan adalah nasionalisme berkebudayaan bukan nasionalisme yang tidak berkarakter. Apalagi Tabanan masih berada di wilayah Bali yang sangat kental nilai budayanya. Sangat memprihatinkan jika salah satu identitas Hindu diluar Bali dihancurkan sementara di Balipun sudah digusur-gusur. Apalagi Wisnu merupakan manifestasi Brahman yang disimbolkan dengan tugasnya sebagai pelindung masyarakat. Ketika salah satu identitas pelindung Hindu, dihancurkan di ditengah serbuan tantangan globalisasi maka Bali akan menjadi benteng yang sangat terbuka untuk menghadapi pengaruh Arab dan Barat.
            Masyarakat Bali tentu semuanya cinta terhadap Bali dan cinta terhadap Indonesia maka dari itu hendaknya berpikir mendalam tentang apa sesungguhnya yang dibutuhkan bangsa Indonesia ini. Setiap masyarakat Indonesia wajib mencintai nilai-nilai budaya asli daerahnya karena keberagaman budayalah yang menjadi keindahan Indonesia sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini. Setiap tumpah darah Indonesia adalah bersaudara meskipun dibedakan oleh berbagai keberagamannya. Namun jangan sampai karena terlalu mencintai nyame dauh tukad sehingga menggusur cintanya terhadap Bali. Untuk menjaga ini maka sangat diharapkan peran serta masyarakat, organisasi, pemerintah dan elemen masyarakat lain agar secara bersama-sama menjaga Bali.

Sabtu, 15 Februari 2014

Sebuah Perspektif Tentang Ketuhanan


Sidharta Gautama tidak pernah mau diajak bicara tentang Tuhan. Ia selalu merasakan kehadiran Tuhan. Beliau sadar bahwa semakin banyak membicarakan Tuhan semakin jauh terpisah dengan Tuhan. Kita seringkali menghadapi hal demikian dalam kehiduan sehari-hari.
Analoginya:
Jika orang atau saudara terpisah jauh, kita seringkali membicarakannya. Tetapi jika orang tersebut hidup dekat dengan kita, semakin jarang membicarakannya. Untuk apa membicarakan orang yang dekat dengan kita? Demikian juga dengan Tuhan. Semakin sering dibicarakan, semakin jauh rasa keterpisahan dari Nya.

Mereka yang merasakan kehadiran Tuhan di barat, timur, dan dimana-mana, tidak akan berani melakukan perbuatan berlawanan dengan perintah Tuhan. Perintah Tuhan hanya satu dan sama: Kasihilah sesamamu seperti kau mengasihi diri sendiri.

Tindakan kekerasan dengan cara menghakimi orang lain membuat diri semakin terpisah dari Tuhan. Bagaimana mungkin terus membohongi diri sendiri? Untuk mengejar pahala? Pahala pujian sesama manusia atau Tuhan? Yang jelas Tuhan tidak bakal memberikan pahala pada manusia yang arogan dan merasa suci sendiri.
Merasa suci adalah bukti semakin jauh dari sifat melayani. Sifat hamba Tuhan adalah sifat melayani sesama.

Rabu, 12 Februari 2014

Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan

 Kesempatan berharga bisa berbicara di depan 100 orang dari 17 BEM dan DPM seluruh Bali di Hotel Bali Beach Bali.

Dalam rangka memperkuat semangat kebangsaan Indonesia, Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan bersama MPR Ri

Perserikatan Bangsa-Bangsa USA


Pengalaman luar biasa bisa duduk di ruang sidang United Nations (PBB) di Amerika Serikat.

Berharap bisa berkontribusi untuk perdamaian dunia

Mengajar Siswa Siswi di Cuba

Sangat beruntung mendapatkan kesempatan untuk ke Luar Negeri (Cuba) dan mengajarkan siswa-siswi. Meskipun hanya sebentar tapi menjadi pengalaman yang sangat luar biasa

Memadamkan Kebakaran Gunung Agung

Tergerak untuk ikut serta mendaki Gunung Agung demi memadamkan kebakaran hutan yang sangat besar bersama Mapala Team Udayana

Duta Bahasa

Bersyukur diberikan kesempatan sebagai Juara 1 Favorit Duta Bahasa Provinsi Bali 2013, dengan 5540 vote

Sekaligus juga menjadi Wakil II Duta Bahasa bersama Nian Anggara

Semoga bisa memberikan kontribusi untuk pelestarian Bahasa Bali, meningkatkan kebanggaan terhadap Bahasa Indonesia dan memperluas pengetahuan terhadap Bahasa Internasional.

Dialog Pembangunan Indonesia Bersama Ketua DPR RI 2009-2014

Dialog pembangunan Indonesia bersama Ketua DPR RI 2009-2014, Marzuki Alie

Gerakan Penggalangan Dana untuk Membantu Kekerasan Terhadap Umat Hindu di Sumbawa

Gerakan Penggalangan Dana untuk membantu kekerasan terhadap umat Hindu di Sumbawa

Dialog Keagamaan

Dialog agama bersama Bapak Arya Wedakarna dalam membahas berbagai tantangan Agama Hindu dan berbagai permasalahan yang kini dihadapi

Juara 1 Lomba Karya Tulis Nasional

Penggalangan Dana untuk Korban Kekerasan SARA di Balinuraga Lampung Selatan.

Kegiatan penggalangan dana untuk korban kekerasan SARA di Balinuraga Lampung Selatan.

Berhasil mengumpulkan dana bersama PD KMHDI Bali sebesar 102 juta rupiah.

Talkshow Mahasiswa Peringatan Hari Kartini

Talkshow Mahasiswa bekerjasama bersama Symponi dan LBH APIK Bali,
Meningkatkan peran perempuan dalam kehidupan kemasyarakatan
Penolakan terhadap penindasan terhadap perempuan.

Aksi Menolak Liberalisasi Pendidikan

Pendidikan menjadi tanggungjawab negara sehingga setiap masyarakat berhak atas pendidikan murah dengan kualitas yang sama tidak ditentukan oleh berapa materi yang dimiliki orangtuanya

Interfaith Youth Community

http://interfaithcommunityyouth.blogspot.com/p/program-2013.html



Youth Interfaith Community adalah sebuah komunitas yang di bentuk oleh alumni program pertukaran pemuda yang bernama Study of U.S Institute (SUSI) for Student Leaders on Religious Pluralism and Democracy in USA yang di sponsori oleh Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat di Temple University, Philadelphia, PA, USA selama 5 minggu. Adapun tujuan dibentuknya komunitas ini yakni untuk membagikan pengalaman mereka selama mengikuti program tersebut dan juga untuk mengajak pemuda yang ada di Indonesia untuk bekerja bersama-sama menciptakan perdamaian di negeri pertiwi ini tanpa membedakan suku, agama dan ras.

Yayasan Jaringan Hindu Nusantara

Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia

http://www.kmhdi.org/


Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia adalah organisasi mahasiswa Hindu berskala nasional yang berperan aktif dalam bidang Nasionalis , Humanis, Religius dan Progresive.

Video Konfrensi Perdamaian Indonesia

Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

Revolusi Arah Pergerakan Mahasiswa Menuju Pembangunan Karakter Pancasila yang Berwawasan Kebudayaan



Revolusi Arah Pergerakan Mahasiswa Menuju Pembangunan Karakter Pancasila yang Berwawasan Kebudayaan

Jika berbicara tentang mahasiswa berarti berbicara tentang perubahan, berbicara tentang perubahan berarti berbicara tentang mahasiswa”
Perubahan, pembangunan serta social control merupakan suatu hal yang tidak mungkin dapat dipisahkan dari Mahasiswa, yang mana telah menjadi tanggungjawabnya untuk bersuara mengawal pembangunan bangsa. Mahasiswa sebagai agent of change memiliki artian bahwa ia terbuka dengan segala perubahan yang terjadi di tengah masyarakat sekaligus menjadi subjek dan atau objek perubahan itu sendiri. Dengan kata lain mahasiswa adalah aktor dan sutradara dalam sebuah pagelaran social control masyarakat serta kebijakan pemerintah.
Tidak  bisa dipungkiri bahwa mahasiswa juga merupakan harapan untuk menjadi para pemimpin bangsa di masa depan yang memiliki kemampuan intelektual, tangguh dan berakhlak mulia. Demi mewujudkannya, tentu saja tidak cukup hanya mengandalkan ilmu dibangku perkuliahan namun memerlukan juga softskill yang diperoleh pengalaman, kreatifitas serta ketangguhan dalam menghadapi segala kondisi dalam lingkungan masyarakatnya. Maka dari itu mahasiswa yang mengawal kebijakan pemerintah ataupun yang terjun langsung dalam masyarakat sesungguhnya juga mendapatkan pembelajaran yang sangat berarti demi perkembangkan pembangunan karakter calon pemimpin bangsa.
Sejarah telah mengukirkan banyak cerita tentang bagaimana peran mahasiswa dalam perubahan kondisi bangsa dan negaranya mulai dari zaman kenabian, zaman kolonialisme hingga zaman reformasi. Tumbangnya Orde Baru juga tidak terlepas dari perjuangan mahasiswa yang menginginkan adanya reformasi menuju pemerintahan yang lebih baik. Sifat kritis dari mahasiswa inilah yang akan menjadi satu-satunya ketakutan dari pemerintah untuk melakukan penyimpangan. Tentu saja pemerintah tidak akan pernah luput 100% dari penyimpangan maupun kepentingan karena memiliki kesempatan yang terbuka lebar untuk melakukannya. Maka dari itu masih sangat diperlukan peran serta Mahasiswa sebagai aktor independent untuk mengawal segala kebijakan pemerintah tersebut.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman , pasca runtuhnya Orde Baru tampaknya pergerakan mahasiswa menjadi kehilangan arah. Suara rakyat dari mahasiswa berada dalam masa terpuruk bahkan banyakpula disusupi dengan kepentingan politik. Bahkan ketika berbicara tentang mahasiswa yang terbayang adalah sosok individualis dan self centered yang hanya memikirkan diri pribadi saja tanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya. Motifasi menjadi seorang mahasiswa telah terbangun hanya untuk segera lulus, IPK tinggi dan langsung berebut mencari kerja jarang sekali yang masih berpikiran tanggungjawabnya pula untuk mengawal kebijakan pemerintah atau mengabdi kepada masyarakat. Semakin terpuruknya pergerakan mahasiswa kini tidak hanya bersifat apatis bahkan hingga sampai menghujat aspirasi aksi mahasiswa karena dianggap melakukan hal yang tidak penting dan membuang-buang waktu saja.
Disisi lain permasalahan bangsa semakin berkembang mulai dari degradasi Ketuhanan, kemanusiaan , krisis keadilan dan juga semakin terpecahbelahnya persatuan Indonesia yang berbagi atas kelompok agama maupun kelompok etnis. Konflik terjadi dimana-mana yang mengatasnamakan agama, gerakan separatism terjadi di banyak tempat setalah Gerakan Aceh Merdeka muncul pula Republik Maluku Selatan dan juga Organisasi Papua Merdeka. Pancasila dengan nilai luhur Bhineka Tunggal Ika menjadi semakin kabur oleh egosentis dari kelompok tertentu yang menindas kelompok lainnya. Degradasi Pancasila ini tidak hanya berjalan karena perkembangan zaman globalisasi namun tampaknya sengaja disusun secara sistemik oleh kepentingan kelompok tertentu yang hanya merasa etnis atau agamanya saja yang benar sedangkan yang lain adalah ajaran yang salah. Padahal dalam setiap agama sesungguhnya telah mengajarkan kebaikan namun seringkali implementasinya banyak terjadi penyimpangannya.
Om Samani Va akutih samana hrdayani vah. Samanam astu vo mano yatha vah susahasati. (Rg Veda. X.191.2)
Marilah seluruh umat manusia berdoa kepada Tuhan agar dapat disatukan dan tidak ada diskriminasi.  Wahai umat manusia, hiduplah dengan harmoni dan kerukunan. Hendaknya bersatu dan bekerjasama. Berbicaralah sebagai satu bangsa dan ambilah keputusan dengan satu pikiran, seperti orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya

            Melihat kondisi bangsa yang berada dalam masa krisis pemahaman pancasila sudah seharusnya mahasiswa kembali bangkit dan berjuang demi bangsa dan Negara. Mahasiswa dapat merumuskan kembali arah pergerakan mahasiswa di zaman reformasi mengembalikan kembali semangat pancasila demi mengatasi segala permasalahan yang ada di masyarakat. Hanya mahasiswa yang dapat mengambil peranan strategis untuk dapat mengangkat kembali pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila tersebut. Mahasiswa pulalah yang memiliki kewajiban untuk membawa kembali aspirasi mahasiswa dalam pergerakan pembangunan bangsa dan Negara.
            Penyampaian aspirasi mahasiswa sesungguhnya tidak seharusnya dilakukan dengan anarkis ataupun menutup jalan sehingga mengganggu banyak kepentingan masyarakat. Sudah saatnya aksi mahasiswa mengalami revolusi kreatifitas yang mana membawa nilai-nilai kebudayaan dalam setiap penyampaian aspirasi itu. Misalnya saja dengan mengadakan Talkshow Terbuka yang dilengkapi pertunjukan kesenian kebudayaan maupun teaterikal budaya yang menyuarakan kritik-kritik membangun bagi pemerintahan. Atau dapat pula dengan melakukan orasi namun dilengkapi dengan pakaian adat seni dan budaya tradisional setempat. Dengan penyampaian aspirasi yang baik dari mahasiswa serta perhatian yang responsive dari pemerintah maka akan melahirkan hubungan ketergantungan yang harmonis antara masyarakat dan pemerintahannya. Dalam Niti Sastra juga menjelaskan tentang hubungan yang saling ketergantungan antara masyarakat dan pemerintahannya.
SINGHA RAKSAKAN1NG HALAS. HALASIKANG RAGSENG HARE NITYASA
SINGHA MWANG WAN A TANPADIRT. PADAWIRODANGDAHTIKANGKESARI,
RUGBRASTANGWANADENIKANGJANA. TINON WREKSANYA SIRNA PADANG,
SINGHANGAT RIJURANG NIKANG TEGAL AYUNADANG. SAMPUN DINON DUR LABA
Artinya:
Singa adalah penjaga hutan, hutan selalu melindungi singa, jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah lalu singa meninggalkan hutan. Hutan dirusak dan pohon-pohon ditebangi manusia sampai mejadi terang, Singa lari bersembunyi dalam lembah atau di tengah-tengah ladang, diserbu dan dibinasakan orang. Jadi, karena tidak bersatu antara hutan dan singa, hutan menjadi rusak karena ditebangi orang dan singa pun mati dibunuh orang karena tidak mempunyai tempat tinggal, kedua-duanya hancur.
Hutan disini juga dapat menjadi pengertian yang lebih luas yakni lingkungan sekitar termasuk pemerintahan ataupun Negara tempat masyarakat berlindung.  Singa dalam hal ini adalah Mahasiswa yang sudah seharusnya menyampaikan aspirasi untuk melindungi seluruh tumpah darah Indonesia dengan mewujudkan pengamalan Pancasila yang baik.
           
           

Pentingnya Melestarikan Kebudayaan Bali


Menjiwai Sumpah Pemuda Dengan Saling Mencintai Antar Umat Beragama


Menjiwai Sumpah Pemuda
Dengan Saling Mencintai Antar Umat Beragama

Bulan oktober memiliki aspek historis perjuangan yang mengagumkan dengan ditandai terukirnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi awal kelahiran Bangsa Indonesia. Begitu luar biasa semangat para generasi muda saat itu untuk bersatu, bersama-sama saling merangkul mengangkat martabat Bangsa Indonesia setelah sekian lama terjajah oleh bangsa lain. Sebuah semangat kekeluargaan luar biasa yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia meskipun memiliki berbagai macam perbedaan namun tidak menghalangi rasa persaudaraan mereka.
Seiring dengan perkembangan zaman pasca kemerdekaan Indonesia, ternyata semangat kekeluargaan tersebut mulai luntur, seolah-olah pernyataan dalam Sumpah Pemuda tersebut hanya menjadi sebuah fomalitas upacara yang sangat minim dalam implementasinya. Indonesia mulai terkotak-kotak dalam struktur sosial dalam masyarakat yang dibedakan atas kepercayaan agamanya. Exclusive agama secara jelas terjadi dengan memandang rendah terhadap agama lain atau menganggap perbedaan pada agama lain menjadi sebuah keanehan. Bahkan tidak jarang kekerasan fisik, penghinaan, pembakaran , penghancuran hingga pembunuhan terjadi dengan mengatasnamakan agama. Padahal secara jelas telah termuat dalam sila pertama Pancasila yaitu “Ketuhaan Yang Maha Esa” bahwa apapun kepercayaan agama kita meskipun nama dan cara yang berbeda tapi sesungguhnya tetap menyembah Tuhan yang sama.
Konsep persaudaraan dan persatuan dengan persamaan derajat sesungguhnya telah dijelaskan dalam Veda salah satunya yaitu ”Ajyesthaaso Akanisthaasa Yete,Sam Bhraataro Vaavrudhuh Soubhagaya (RigVeda V.60.5)” yang berarti tidak ada yang superior maupun inferior bagi seluruh umat manusia, kita semua bersaudara, semua harus berjuang untuk kepentingan dan kemajuan bersama. Dalam konsep hindu juga diajarkan bagaimana agar kita tidak terpancing untuk menjelekan kepercayaan lain kalaupun ada yg menghujat jelaskan dengan halus dan sabar penuh pengertian anggap mereka saudara kita yg salah persepsi terhadap Agama Hindu karena kebetulan dilahirkan dalam lingkungan sosial yang sempit. Pada dasarnya semua manusia bersaudara apapun perbedaannya, cinta kasih tetap yang utama begitu juga dengan Agama lain.
Dalam memperingati sumpah pemuda, para generasi muda sebagai masa depan bangsa hendaknya secara bersungguh-sungguh menjiwai nilai-nilai persaudaraan dan persatuan yang terkandung didalamnya. Bersatu sebagai Bangsa Indonesia,Tanah Air Indonesia dalam menghadapi berbagai macam permasalahan serta persaingan global. Pemerintah juga seharusnya mampu berperan aktif mengkonstruksikan Hari Sumpah Pemuda menjadi hari yang tidak sekedar menjadi upacara formalitas rutin misalnya dengan memfasilitasi pertemuan diskusi besar, camping Bhinneka Tunggal Ika yang dibarengi dengan lomba, Ikrar Sumpah Pemuda dan masih banyak kegiatan lain yang bisa memperkuat persaudaraan. Paling tidak kita harus mampu menciptakan hubungan yang harmonis sesama manusia sebagaimana konsep “Pawongan” dalam Tri Hita Karana”, setelah “Palemahan” kita semakin rusak akibat pembabatan hutan bakau di Bali yang dilakukan oleh pemerintahnya sendiri atas nama kebutuhan bersama. Kita harus berjuang dalam memperbaiki dan mengatasi segala macam tantangan yang semakin kompleks di masa mendatang. Jangan sampai sebuah perbedaan kecil mampu merusak persaudaraan kita. Segala tantangan yang sulit tentu akan menjadi mudah apabila berjuang bersama-sama dengan prinsip “ Unity in Diversity”, satu keluarga dibawah satu Tuhan.



Pemekaran Adat Jangan Sampai Konflik Nyame Braya Implementasikan Musyawarah Kekeluargaan


Pemekaran Adat Jangan Sampai Konflik Nyame Braya
Implementasikan Musyawarah Kekeluargaan

            Pemekaran desa adat masih saja sering terjadi di Bali hingga saat ini yang dipicu oleh sekelompok warga yang ingin memisahkan diri dari Desa Adatnya dan mendirikan Desa Adat yang baru. Pemekaran desa adat sebenarnya sudah  dapat dilakukan jika sudah tersedianya fasilitas untuk mendirikan suatu Desa Adat yang baru, misalnya memiliki Tri Kahyangan (Kahyangan Tiga), Setra serta setiap warganya sudah siap untuk mendirikan suatu sistem dan perangkat Desa Adat yang Baru. Persyaratan tersebut harus dimiliki oleh desa adat agar tidak terjadi benturan yang diakibatkan kebijaksanaan yang berbeda dari masing-masing Desa Adat misalnya dalam menyelenggarakan upacara atau hiburan dalam Desa Adat tersebut.
            Realita yang terjadi hingga saat ini, banyak sekali ditemukan kasus konflik yang diakibatkan oleh pemekaran Desa Adat, hingga mampu menghancurkan hubungan Nyame Braya yang sudah terjalin sejak sekian lama. Bahkan hingga terjadi pengusiran kepada salah seorang atau sekelompok warga yang kemudian dapat memicu konflik semakin panjang .  Mengapa kita harus mengusir keluarga kita sendiri ?, sementara jika kita liat disekeliling dengan mudahnya kita menerima orang yang tidak jelas asal-usulnya. Baik berbeda desa adat berbeda kecamatan atau kabupaten harus kita sadari bahwa pada dasarnya kita adalah satu keluarga, nyame Bali ajak pade gelahang.
            Perbedaan pendapat memang adalah suatu hal yang wajar terjadi dalam sebuah keluarga karena dalam pengambilan keputusan di Desa Adat tentunya terdiri atas banyak kepala maka otomatis juga akan ada banyak pemikiran dengan berbagai sudut pandang yang berbeda. Hendaknya perbedaan itu tidak akan menyebabkan retaknya hubungan keluarga besar kita apalagi dilakukan dengan pengusiran paksa secara sepihak apapun itu alasannya.
Setiap keputusan untuk bersama memang harus disepakati bersama dengan menggunakan prinsip bahwa setiap warga memiliki hak yang sama dalam menyuarakan pandangannya. Kemudian, setiap pandangan disatukan dengan musyawarah kekeluargaan dengan tidak memarjinalkan pandangan tertentu. Jika sudah menjadi keputusan bersama dengan  proses musyawarah yang tidak dikemas layaknya kompetisi seperti ada yang kalah dan ada yang menang maka tidak akan ada sekelompok warga yang akan merasa termarjinalkan. Kalaupun ada yang tetap mempertahankan pandangannya sendiri meskipun sudah disepakati bersama, seharusnya dapat diselesaikan dengan pendekatan bijaksana. Untuk itulah disini membutuhkan pemimpin yang cerdas dan bijaksana yang mampu mencegah konflik dan merangkul setiap warganya.
            Apabila hingga terjadi konflik yang panas akibat kegagalan desa adat tersebut dalam merangkul setiap warganya. Hendaknya kegagalan tersebut segera diperbaiki dengan penyelesaian-penyelesaian kepala dingin bukan dengan solusi pengusiran atau solusi lain yang justru membuat konflik semakin panas. Melihat kondisi desa adat tersebut diharapkan Pemerintah Kabupaten harus lebih bijaksana dengan mampu memediasi antar warga yang berkonflik sehingga muncul kesimpulan akhir yang mampu mengakomodir setiap warga. Selain itu Pemerintah Kabupaten juga harus turun tangan dalam memperbaiki kembali hubungan keluarga yang renggang antara warga desa adat tersebut agar kembali dapat tercipta Nyame Braye Bali yang harmonis pade gelahang.

Pencurian Pretima Tidak Akan Bisa Meruntuhkan Kesakralan Pura

           Beberapa hari ini masyarakat Bali tersita perhatiannya oleh kasus pencurian Pretima di beberapa kabupaten/kota di Bali. Besarnya perhatian publik akan kasus ini di Bali membuat Kapolda Bali bahkan menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi tentang pelaku dan penadah pencurian Pretima. Sementara tokoh adat, agama di Bali berteriak lantang menyebut kasus pencurian Pretima ini sebagai pelecehan terhadap agama Hindu dan adat budaya Bali. Bahkan banyak tuntutan-tuntutan untuk meningkatkan penjagaan di Pura dan menangkap kemudian menghukum seberat-beratnya pelaku pencurian.
            Inilah suatu pemikiran yang keliru yang mana seharusnya Puralah yang melindungi dan menjaga masyarakat, bukan masyarakat yang melindungi Pura itu. Pura dalam bahasa sansekerta berarti benteng yang bertugas melindungi masyarakat baik dari musuh fisik maupun musuh-musuh dalam diri (Sad Ripu). Pura dalam bentuk fisik bisa dengan mudah dihancurkan, tapi tidak akan pernah bisa menghancurkan jiwa dan kesucian yang tertanam dalam Pura itu. Pura dalam bentuk fisik akan selalu berdiri tegak selama ada masyarakat yang ia lindungi. 
            Begitu juga dengan Pretima yang disucikan dan banyak diantaranya telah berumur ratusan tahun namun tetap saja dengan mudah dapat dicuri oleh orang lain. Jika dengan mudah dicuri, bukankah itu berarti bahwa Pratima itu hanya sebatas barang antik yang tidak memiliki kekuatan magis. Pretima bukan untuk diagungagungkan seperti Dewa.  Hindu tidak pernah mengajarkan untuk menyembah Pretima, Arca atau patung secara langsung. Yang disembah adalah Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) yang mungkin diwujudkan dalam berbagai bentuk untuk mempermudah Umat dalam memusatkan pikiran kepada Nya. Sebagaimana juga disebutkan dalam ajaran Weda bahwa bagaimanapun cara kita menyembah Tuhan akan Beliau terima selama dilakukan dengan perasaan yang tulus. Jadi sekalipun Pratima itu tidak pernah ada sekalipun tidak akan mengganggu Parahyangan.
            Pencurian ini tentu saja meresahkan masyarakat yang menganggap kesucian Pura terganggu dengan hilangnya Pretima. Untuk itu pemahaman masyarakat terhadap Pretima harus segera diluruskan oleh para tokoh adat dan agama bukan justru masyarakat dibuat semakin panik. Para pelaku memang harus segera ditangkap kemudian dikenakan sanksi Adat dan hukum yang sebanding namun bukan berarti cukup sampai disana. Pretima yang bernilai antik sebaiknya segera dimuseumkan kemudian diganti dengan Pretima biasa atau disatukan dengan tempat suci itu baik dengan penyambung kayu atau beton secara permanen sehingga begitu sulit untuk diambil secara sembarangan.
Kesakralan Pura ditentukan oleh Parahyangan dari masyarakatnya bukan oleh wujud fisik dalam Pura tersebut dan kekuatan Pura untuk melindungi Umatnya ditentukan oleh keyakinan dan Yadnya dari masyarakatnya sendiri bukan oleh artefak jadi jangan sampai pencurian Pretima ini meruntuhkan keyakinan masyarakat.

Monyet Sang Hyang Ambu Menanti Uluran Tangan Pemerintah

Bila anda hendak menuju ke Bali Timur di Karangasem dan melintas dari arah selatan maka tentunya akan melewati Bukit Sang Hyang Ambu. Daerah ini adalah berupa perbukitan yang menyajikan pemandangan berupa sawah membentang luas dan pinggiran pantai yang membiru di arah selatan. Bukit Sang Hyang Ambu terletak di Desa Adat/Pakraman Bugbug, Kecamatan Karangasem. Yang menarik di bukit ini adalah  kehadiran ratusan monyet yang bisa hadir setiap saat di antara dahan-dahan pohon yang menjuntai di pinggir jalan. Keberadaan monyet itu sendiri sebagai bagian dari konservasi yang harus senantiasa dijaga kelestariannya. Monyet-monyet disini tidaklah terlalu liar seperti yang ada di Sangeh.
Monyet ini terpaksa turun kejalan karena kehabisan makanan di bukit , bahkan tidak jarang monyet ini turun keperkebunan warga karena kelaparan terutama saat musim kemarau. Monyet ini hanya mengharapkan belas kasian dari pengendara motor/mobil yang kebetulan singgah untuk memberinya makan. Jinaknya monyet ini tentu memudahkan para penculik monyet yang tidak bertanggung jawab untuk dijadikan peliharaan pribadi atau dijual apalagi tidak ada pengawasan yang intensif. Dengan berkeliarannya monyet dijalan secara sembarangan juga menyebabkan sangat rawan kecelakaan yang membahayakan bagi monyet yang berusaha mencari makan.
Kondisi monyet di Sang Hyang Ambu ini sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk bekerjasama dengan Desa Pakraman Bugbug dalam menciptakan suatu lingkungan yang lebih baik bagi kelangsungan hidup monyet tersebut. Selain itu pemerintah dapat memaksimalkan manfaat dari kehadiran monyet dan pemandangan indah bukit ini untuk menjadi objek wisata yang ramah lingkungan seperti yang ada di Sangeh. Dengan menciptakan objek wisata tersebut tentu akan semakin banyak dikunjungi wisatawan yang memberikan makanan bagi monyet. Apalagi lokasi bukit inipun sangat strategis yang mana sangat dekat dengan wilayah Candidasa yang banyak dikunjungi wisatawan. Tentu dengan menata bukit ini akan menguntungkan dari semua segi baik bagi monyet, lingkungan, pemerintah daerah, pariwisata maupun meningkatkan kesejahtraan Desa Pakraman Bugbug.
Seperti yang telah dijelaskan dalam Kitab Manawa Dharmasastra bahwa semua mahkluk hidup adalah bagian percikan dari Tuhan Yang Maha Esa. Kita sebagai manusia wajib bersyukur karena atman telah menjadi mahluk hidup yang utama yaitu memiliki Sabda, Bayu dan Idep.  Jika makhluk hidup bisa saling menyayangi maka keselarasan  hidup akan terwujud. Manusia sebagai ciptaan yang termulia,  mempunyai  kewajiban menjalin keselaran baik dengan Sang Pencipta, sesama kehidupan  dan alam  semesta beserta isinya. Kita wajib melindungi ,mengasi dan menyayangi mahluk lainnya termasuk monyet.





Pesta Kesenian Bali Jangan Didominasi “Pasar Tidak Seni”

            Pesta Kesenian Bali (PKB) merupakan pameran kesenian terbesar di Bali, bahkan menjadi salah satu pameran terbesar di Indonesia yang diselenggarakan selama sebulan dalam setiap tahunnya di Bali. Dalam Pesta Kesenian Bali dipertunjukan berbagai macam kesenian-kesenian berupa kerajinan, tari-tarian, bondres, Joged, Wayang Gong Kebyar, Teater , Nyanyian tradisional maupun modern bernuansa kekayaan budaya Bali. Tiap-tiap daerah di Bali juga ikut berperan aktif dalam mempertunjukan kesenian-kesenian andalan daerahnya. Kesenian-kesenian yang dipertunjukan di PKB sungguh sangat mengagumkan yang memang harus dilestarikan dan dikembangkan sebagai asset budaya yang menjadi kebanggaan Bali.
Ribuan masyarakat dari seluruh Bali berduyun-duyun setiap hari mengunjungi taman budaya tempat diselenggarakannya PKB tersebut, hingga tempat diselenggarakannya PKB menjadi penuh dan sesak hingga berdesak-desakan. Namun sebagian besar dari masyarakat hanya datang ke PKB untuk mengunjungi pasar murah yang tidak berbeda jauh dengan Pasar Kreneng yang menjual baju ,tas , kaset dan barang-barang lain yang tidak memiliki unsur kesenian keunikan budaya. Padahal masih banyak kesenian-kesenian unik di Bali yang kesulitan untuk dapat memamerkan keseniannya dalam PKB akibat dari tidak mampu membayar biaya sewa stand, terbatasnya tempat maupun karena takut kalah bersaing dengan barang tidak seni yang memang lebih jauh murah. Pemasaran dan pertunjukan kerajinan juga menjadi tidak maksimal dengan dominasi dari pasar tidak seni yang dapat membuat kualitas Pesta Kesenian Bali dipertanyakan nama besarnya. Selain itu masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan budaya juga dapat merasa terganggu kenyamanannya jika harus berdesak-desakan layaknya berbelanja di pasar biasa.
Pesta Kesenian Bali merupakan kebanggaan budaya terbesar di Bali, akan lebih baik lagi apabila seluruh jenis kesenian di Bali dapat dipertunjukan dalam pesta budaya tersebut. Pemerintah harus dapat berperan lebih aktif dengan mengajak desa adat dan banjar setempat untuk bersama-sama mengembangkan penyelenggaraan PKB dengan memisahkan antara pameran kerajinan dan pasar tidak seni untuk rakyat agar berjarak lebih jauh dari tempat diselenggarakannya PKB. Tempat pasar tidak seni sekarang sebaiknya diganti dengan pameran kesenian-kesenian budaya yang lebih beraneka ragam dari setiap daerah sehingga hal tersebut dapat memacu lebih banyak pengrajin untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian Bali. Selain itu dibutuhkan bantuan pemerintah agar para pedagang kesenian juga mendapatkan kemudahan akses dan biaya sewa yang lebih murah untuk memasarkan kerajinannya di PKB. Dengan kemudahan-kemudahan tersebut diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat para pedagang kerajinan kecil yang dewasa ini mulai tergerus oleh kebesaran toko kerajinan oleh-oleh khas Bali yang bermodal besar. 
Pesta Kesenian Bali juga akan lebih megah lagi apabila dunia pendidikan dapat berpartisipasi lebih aktif didalamnya sebagai kompensasi dari pemindahan pasar murah tersebut. Setiap Universitas maupun sekolah menengah atas akan lebih meningkatkan perhatiannya untuk mengembangkan seni yang tidak hanya dipertunjukan oleh beberapa perguruan tinggi saja. Kesenian budaya Bali merupakan kebanggaan Bali yang harus dirasakan juga oleh setiap generasi muda yang akan menjadi pemimpin dan penjaga Bali ini di masa mendatang. Untuk itu diperlukan kerjasama korelatif yang lebih baik antara pemerintah, desa adat , pelajar dan masyarakat luas untuk bekerjasama mewujudkan konsep terbaik dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Bali terutama dalam menghadapi dunia globalisasi yang penuh tantangan terhadap keunikan budaya Bali.